Monday, August 03, 2018. Latest Post :
Follow us :

Dolar AS Sempat Jinak, Eh Ngamuk Lagi

Nilai dolar AS terhadap rupiah sempat menjinak tanpa tekanan beberapa minggu terakhir. Namun kemarin, dolar AS kembali menguat berada di posisi Rp 14.900an.

Pada perdagangan pagi nilai dolar AS dibuka pada posisi Rp 14.890. Kemudian terus menguat pada perdaganan siang yang mendekati angka Rp 15.000.

Awal pekan rupiah memang masuk ke dalam tiga negara Asia yang mengalami pelemahan cukup besar setelah Rupe (India) dan Peso (Filipina).

Adanya antisipasi atas potensi kenaikan suku bunga The Fed yang diperkirakan terjadi pekan ini turut memjadi salah satu sentimen. Di IHSG, pelaku pasar asing membukukan aksi beli bersih (Netbuy) sebesar Rp 587 miliar.

Dolar Amerika Serikat (AS) siang ini mengamuk lagi ke Rp 14.900. Sempat menyentuh level tertinggi di Rp 14.910, dolar AS juga sempat sentuh level terendah ke Rp 14.830.

Meski demikian, dolar AS masih terpantau tinggi dengan pergerakan rata-rata siang ini menurut data perdagangan Reuters, Selasa (25/9/2018), berada di rentang Rp 14.900.

Bila ditarik dalam rentang waktu 3 bulan terakhir, rupiah sudah terdepresiasi sedalam 7%, di mana pada tanggal 19 Juni 2018, dolar AS masih berada di Rp 13.930.

Tahun ini, dolar AS sempat menyentuh rekor di Rp 14.999, hanya selisih sedikit dari posisi psikologis Rp 14.500.

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga menjelaskan ada beberapa hal yang menyebabkan nilai rupiah tertekan dari dolar AS. Menurut dia, saat ini investor memilih untuk waspada di awal pekan perdagangan ini setelah China membatalkan rencana negosiasi dagang dengan pemerintah AS pada akhir pekan lalu.

“Statement Presiden AS Donald Trump soal tarif US$ 200 miliar barang China membuat kondisi makin memburuk. China diperkirakan akan membalas dengan US$ 60 miliar barang AS,” kata Lukman dalam keterangannya, Selasa (25/9/2018).

Dia mengungkapkan, walaupun sentimen pasar tetap sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi dagang global, fokus cukup besar juga akan tertuju pada rapat The Fed pekan ini. Suku bunga AS diprediksi akan ditingkatkan di bulan September dan mungkin ditingkatkan kembali untuk keempat kalinya di bulan Desember.

Kenaikan suku bunga mendatang ini sudah sangat diperhitungkan dalam harga saat ini, namun masih dapat memicu arus keluar modal dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.

Lukman menjelaskan, Bank Indonesia pekan diperkirakan akan meningkatkan suku bunga untuk kelima kalinya sejak pertengahan bulan Mei.

“Kenaikan suku bunga mungkin dapat membantu rupiah, namun penurunan berulang kali dalam beberapa pekan terakhir memastikan bahwa rupiah tetap tertekan oleh berbagai faktor eksternal,” ujar dia.

Selanjutnya Ketegangan dagang AS-China memicu ketidakpastian dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mendukung Dolar AS sehingga rupiah tetap rentan mengalami kejutan negatif. Mengutip Reuters pukul 13.00 WIB dolar AS tercatat Rp 14.905. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) dolar AS tercatat Rp 14.893.


Member's Feedbacks